Ekonomi Minus 7,8 Persen, Resesi Jepang Kian Berkepanjangan

Farah

Jepang melaporkan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) mereka minus 7,8 persen pada kuartal II. Kinerja minus itu membuat resesi Jepang kian berkepanjangan.

Jakarta, Indonesia —

Jepang melaporkan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) mereka minus 7,8 persen pada kuartal II. PDB Jepang anjlok karena terpukul wabah virus corona yang mengganggu konsumsi masyarakat.

Dikutip dari .com, Kantor Kabinet Jepang mengungkap minus 7,8 persen menjadi yang terburuk sejak pencatatan dengan gaya modern dimulai pada 1980.

Namun, Jepang masih mencatat kinerja yang lebih baik jika dibandingkan dengan negara ekonomi terbesar lainnya.

Pada periode April hingga Juni, Jepang mulai membaik jika dibandingkan dengan Amerika Serikat dan Jerman yang sama-sama mencatat minus 10 persen dan Inggris yang PDBnya minus 20,4 persen.

Seperti banyak negara lain, kontraksi PDB Jepang sebagian besar disebabkan oleh menyusutnya belanja konsumen karena pembatasan yang diberlakukan untuk menahan Covid-19, serta penurunan ekspor.

Konsumsi, yang menyumbang lebih dari setengah ekonomi Jepang, merosot 8,2 persen pada kuartal II.

Lihat juga:

Ekonomi Anjlok 12,2 Persen, Thailand Masuk Jurang Resesi

Pasalnya, bisnis di seluruh negeri tutup selama darurat nasional sepanjang enam minggu pada April dan Mei.

“Meskipun tidak sebesar penurunan yang terlihat di negara-negara maju lainnya, penurunan pertumbuhan kuartal II menandai kontraksi sebanyak tiga kali berturut-turut. Kondisi ini membuat Jepang rentan terhadap guncangan penurunan lebih lanjut,” tulis Oxford Economics dalam sebuah catatan.

Ada juga kekhawatiran tentang kecepatan pemulihan, meskipun aktivitas rebound mulai terlihat pada Juni dan Juli.

Lihat juga:

Warga Bandung Antusias Tukar Uang Rp75 Ribu Edisi Kemerdekaan

Banyak ekonom memperingatkan bahwa berbagai langkah bantuan dalam dua paket stimulus ekonomi awal tahun ini akan berakhir pada September.

Hal ini menimbulkan risiko bagi usaha kecil dan menengah yang merupakan bagian terbesar dari perekonomian Jepang.

“Kurangnya tanggapan kebijakan yang koheren benar-benar menakutkan. Kami membutuhkan tanggapan yang bijaksana, hati-hati, dan luas untuk situasi yang mengerikan ini. Hal inilah yang [Perdana Menteri] Abe dan perusahaan kurangi dalam hal cara mereka melakukan sesuatu,” kata Noriko Hama, seorang profesor di Doshisha Business School.

Lihat juga:

Defisit Transaksi Berjalan Kuartal II 2020 Turun Jadi US$2,9M

Pemerintah Jepang melanjutkan rencana subsidi untuk meningkatkan perjalanan domestik pada pertengahan Juli, tepat ketika kasus virus baru mulai meningkat.

Di antara negara G7 yang tersisa, Badan Statistik Kanada memperkirakan PDB kuartal kedua akan berkontraksi 12 persen dari kuartal sebelumnya.

Sementara China diprediksi bisa menghindari resesi dan memperbaiki kinerja terburuknya pada awal tahun ini.

[Gambas:Video ]

(age/sfr)

Next Post

Stewart Kohl - Why Giving Back is Good for Business

Cleveland, Ohio – From the founding of The Riverside Company in 1988, the company has tried to follow the Golden Rule. Co-CEOs Stewart Kohl and Béla Szigethy always preferred to do business that way, but they soon discovered it was an excellent practice for the firm and its stakeholders. Stewart Kohl […]