78 Perawat Meninggal di Masa Pandemi, Terbanyak di Jatim

Farah

Sebanyak 78 perawat meninggal di masa pandemi Covid-19, dengan jumlah terbanyak disumbang dari Jawa Timur.

Jakarta, Indonesia —

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) mencatat ada 78 perawat meninggal selama masa pandemi Covid-19. Korban terbanyak berada di Jawa Timur.

“Per data 14 September ada 78 perawat meninggal semenjak masa pandemi Maret,” ungkap Umum PPNI Harif Fadilah, melalui pesan teks, Selasa (15/9).

Dari jumlah itu, 6 orang dinyatakan negatif Covid-19 berdasarkan hasil swab, dan 2 orang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Sementara 70 orang lainnya terkonfirmasi positif Covid-19.

Jumlah perawat meninggal terbanyak ada di Provinsi Jawa Timur yakni sebanyak 25 orang, kemudian di DKI Jakarta 16 orang, dan Jawa Tengah 14 orang. Di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan masing-masing tercatat 4 orang perawat meninggal.

Provinsi lainnya seperti Banten, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Kalimantan Tengah mencatat masing-masing 2 perawat meninggal. Lalu di Kalimantan Timur, Riau, dan Jawa Barat mencatat satu orang perawat meninggal.

PPNI juga mencatat perawat asal Indonesia yang meninggal saat bertugas di Kuwait, Timur Tengah positif Covid-19.

Sebelumnya, Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan ada 115 dokter meninggal per 13 September 2020.

Lihat juga:

Terawan: Masih Ada 3.500 Dokter Magang untuk Hadapi Corona

Dari jumlah itu, 60 di antaranya merupakan dokter umum, 53 dokter spesialis, dan dua dokter residen. Diketahui juga ada tiga dokter umum dan empat dokter spesialis yang meninggal merupakan guru besar.

Catatan kematian dokter terbanyak berada di Jawa Timur yaitu 29 dokter, Sumatra Utara 21 dokter, DKI Jakarta 15 dokter, Jawa Barat 11 dokter, Jawa Tengah 8 dokter, Sulawesi Selatan 6 dokter.

Bali, Kalimantan Selatan, dan Sumatra Selatan masing-masing kehilangan empat dokter. Kalimantan Timur kehilangan tiga dokter, Kepulauan Riau, Yogyakarta, Aceh, telah kehilangan dua dokter. Sementara Banten, NTB, Papua Barat, dan Riau kehilangan masing-masing satu dokter.

Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar IDI, dr Adib Khumaidi mengatakan kematian dokter adalah kehilangan besar bagi bangsa Indonesia sebab dapat berakibat pada penurunan kualitas pelayanan kesehatan bagi rakyat Indonesia.

“Dokter adalah aset bangsa, investasi untuk menghasilkan dokter dan dokter spesialis sangat mahal. Kehilangan dokter tentunya akan dapat berakibat menurunnya kualitas pelayanan bagi rakyat Indonesia,” ujarnya.

(khr/arh)

[Gambas:Video ]

Next Post

BPD Baru Kucurkan Kredit Rp1,8 T dari Celengan Pemerintah

Jakarta, Indonesia — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bank pembangunan daerah (BPD) baru menyalurkan kredit sebesar Rp1,8 triliun dari penempatan dana pemerintah. Realisasi itu baru 15,65 persen dari total dana yang ditempatkan pemerintah sebesar Rp11,5 triliun. “Di BPD sudah ditempatkan Rp11,5 triliun dan baru disalurkan Rp1,8 triliun. Ini masih […]