5 Jenis Kontraksi yang Perlu Diketahui Ibu Hamil

Farah

Kontraksi tak selalu jadi tanda bahwa persalinan sudah di depan mata. Beda jenis kontraksi, beda pula penyebabnya.

Jakarta, Indonesia —

Banyak orang mengasosiasikan kontraksi dengan proses persalinan. Namun, faktanya kontraksi tak selalu jadi tanda persalinan sudah di depan mata. Ada beberapa jenis kontraksi yang perlu diketahui ibu hamil.

Kontraksi tak hanya terjadi jelang persalinan. Kontraksi bahkan bisa terjadi saat masa awal kehamilan, bahwa saat Anda baru saja dinyatakan positif hamil. Kontraksi pada masa awal kehamilan tak menjadi tanda persalinan sudah di depan mata.

Selama masa kehamilan, ibu hamil mungkin akan mengalami beberapa jenis kontraksi. Beda jenis kontraksi, beda pula penyebabnya.

Berikut jenis-jenis kontraksi yang perlu Anda ketahui, melansir Parents.

1. Kontraksi awal

Ibu hamil umumnya akan merasakan perut yang mengencang dan mengeras selama masa kehamilan. Hal ini menandakan bahwa tubuh sedang mempersiapkan dirinya untuk melahirkan.

Kontraksi ini bahkan bisa terjadi di masa-masa awal kehamilan. Penyebab kontraksi ini di antaranya adalah peregangan ligamen sekitar rahim, dehidrasi, sembelit, dan nyeri pada perut.

Namun, jika kontraksi disertai dengan bercak dan pendarahan, Anda perlu segera ke dokter untuk memeriksakan diri.

Lihat juga:

Jenis Makanan yang Dilarang Dikonsumsi saat Hamil

2. Kontraksi Braxton Hicks atau kontraksi palsu

Mulai trimester kedua, beberapa ibu hamil mengalami kontraksi palsu yang dikenal juga dengan istilah Braxton Hicks. Kontraksi ini tak akan terasa menyakitkan dan berlangsung selama 30 detik hingga 2 menit.

Kontraksi palsu ini umumnya terjadi secara acak. Dalam beberapa kasus, kontraksi ini bisa dipicu oleh aktivitas olahraga. Kontraksi Braxton Hicks menandakan bahwa rahim sedang berlatih untuk menghadapi proses persalinan.

Redakan kram dengan minum banyak air mineral, mandi air hangat, dan bernapas secara teratur.

3. Kontraksi seks

Jika kehamilan Anda normal tanpa komplikasi, hubungan seks tak akan meningkatkan risiko persalinan prematur. Kendati demikian, seks selama masa kehamilan bisa memicu kontraksi palsu.

Close-up of pregnant woman relaxing and sitting on the side on the sofa. Holding a hands on the tummy.Ilustrasi. Masing-masing jenis kontraksi memiliki penyebab yang saling berbeda. (Istockphoto/ Gorodenkoff)

Kontraksi ini umumnya akan mereda dalam beberapa jam. Jika disertai dengan gejala yang mengganggu seperti pendarahan, nyeri, keputihan, atau penurunan gerakan janin, segera periksakan diri ke dokter.

4. Kontraksi prematur

Sebelum 37 pekan kehamilan, kontraksi yang datang secara teratur bisa menandakan risiko persalinan prematur. Kontraksi ini umumnya terjadi setiap 10 menit sekali. Konsultasikan dengan dokter jika Anda mengalami hal tersebut.

5. Kontraksi persalinan

Kontraksi persalinan yang sebenarnya akan dimulai dengan gejala sakit perut yang terasa tidak nyaman. Perlahan, rasa sakit pada perut akan semakin memburuk. Saat persalinan berlangsung, kontraksi ini akan menjadi lebih kuat dan intens. Kontraksi persalinan yang sebenarnya juga dapat menyebabkan sakit punggung.

Lihat juga:

Aturan Melahirkan di Masa Pandemi Covid-19 dari Kemenkes

Cara termudah untuk mengetahui apakah Anda mengalami kontraksi persalinan yang sebenarnya atau bukan adalah dengan melakukan tes mandiri yang sederhana. Berbaring dan letakkan tangan di perut bagian rahim Anda. Jika seluruh rahim mengeras selama kram, kemungkinan Anda mengalami kontraksi. Jika keras di satu tempat dan lunak di tempat lain, kemungkinan Anda tidak mengalami kontraksi.

Cara Menangani Kontraksi Persalinan

Saat kontraksi terjadi, catat berapa lama kontraksi berlangsung. Catat pula jeda waktu di antara kontraksi yang muncul. Anda dianggap sedang berada pada tahap persalinan aktif jika mengalami kontraksi teratur yang berlangsung sekitar 1 menit dan muncul setiap 5 menit sekali.

Pada kelahiran anak pertama, seorang ibu hamil akan membutuhkan beberapa waktu agar tubuh terbiasa. Seluruh proses persalinan umumnya berlangsung selama beberapa jam atau bahkan lebih dari sehari. Namun, kehamilan dan proses persalinan berikutnya umumnya akan berlangsung lebih singkat.

Pahami beda jenis kontraksi di atas agar mendapatkan penanganan yang tepat.

(asr)

[Gambas:Video ]

Next Post

Epidemiolog Respons Jokowi Fokus Kesehatan: Mulai Siuman

Jakarta, Indonesia — Epidemiolog Universitas Airlangga Surabaya Windhu Purnomo menilai Presiden Joko Widodo mulai menyadari bahwa kesehatan masyarakat perlu diutamakan dalam penanganan pandemi virus corona (Covid-19). Hal ini merespons pidato Jokowi saat membuka Sidang Kabinet Paripurna untuk Penanganan Kesehatan dan Pemulihan Ekonomi Tahun 2021. Jokowi menyatakan fokus utama pemerintah yaitu mengutamakan kesehatan, agar ekonomi tetap […]