Bayi di Sulbar Meninggal Usai 4 Hari Diimunisasi Polio

Irene

Bayi di Sulbar Meninggal Usai 4 Hari Diimunisasi Polio

Bayi berusia tiga bulan berinisial AF meninggal dunia usai diimunisasi polio. Korban adalah anak pertama dari pasangan Sultan dan Rosmiati warga Desa Patampanua, Kecamatan Matakali, Polman, Sulawesi Barat.

Bayi mungil itu menjalani imunisasi Polio pada Kamis 25 Juni di Puskesmas Matakali. Saat itu kondisi bayi sehat. Setelah disuntik vaksin Polio, kondisi bayi mungil itu berubah, diduga akibat bekas suntikan yang mengeluarkan darah terus menerus.

Setelah darah berhenti menetes, bayi mungil itu demam dan menangis hingga suaranya hilang. Bayi selanjutnya dibawa oleh keluarganya ke rumah sakit dalam keadaan sesak napas. Usai dirawat, bayi mungil itu meninggal dunia, Senin 29 Juni 2020.

Indah, tante bayi mungil itu membenarkan, keponakannya meninggal dunia usai imunisasi polio. Sebab usai disuntik vaksin, terjadi pendarahan di lengan bayi dan menyebabkan demam. Awalnya, pihak keluarga mengira itu hanya demam biasa yang umum terjadi pada bayi usai disuntik vaksin.

“Namun, tidak lama kemudian AF terus menangis dan kejang-kejang. Kami merasa sangat terpukul atas kejadian ini,” ungkap Indah, Selasa (30/6). Dikutip dari Liputan6.com.

Indah juga mengungkapkan, ada prosedur pelayanan diduga tidak seperti biasanya yang dilakukan oleh pihak Puskesmas Matakali ketika mengimunisasi polio. Sebab, sebelum bayi mungil itu disuntik vaksin, pihak puskesmas tidak menimbang berat badan si bayi.

“Hanya ditanya berapa beratnya. Habis disuntik petugasnya tidak ada yang memberi penjelasan apa-apa. Nanti kami yang bertanya, apakah sudah selesai baru ada jawaban bahwa sudah selesai,” tutur Indah.

Kepala Puskesmas Matakali, Ahmad menampik penyebab bayi mungil itu meninggal karena suntikan vaksin polio. Ia berdalih, bayi tersebut meninggal karena penyakit Bronchopenumonia. Bronchopenumonia adalah salah satu jenis infeksi pernapasan yang sering menyerang anak.

“Barusan dapat kabar dari RS bahwa bayi meninggal bukan karena imunisasi, diagnosa terakhir adalah Bronchopneumonia,” kata Ahmad.

“Biasanya, kalau sudah divaksin BCG, dianjurkan untuk tidak diganggu bekas suntikannya sampai terjadi abses. Nah ini ada katanya direndam dan dielus-elus bekas suntikannya,” ujar Ahmad.

Ahmad mengatakan pihak rumah sakit, puskesmas dan Dinas Kesehatan Polman akan bertemu dengan keluarga korban untuk membahas kejadian ini pada Rabu 1 Juni 2020. [cob]

Next Post

Masjid Berjalan di Aceh Jadi Alternatif Tempat Ibadah Saat Pandemi

Di Aceh, truk yang disulap menjadi masjid. Hal ini menjadi sebuah alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan fasilitas beribadah lengkap di tempat publik saat pandemi. Mobil Masjid dibangun atas inisiasi Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), dengan cara mengalihfungsikan kendaraan sejenis truk boks menjadi masjid. Masjid berjalan ini mampu menampung belasan jemaah. […]