Amerika Selatan ‘Pusat Krisis’ Baru Virus Corona di Dunia

Farah

Amerika Selatan 'Pusat Krisis' Baru Virus Corona di Dunia

Jakarta, Indonesia — Amerika Selatan telah menjadi “episentrum baru” pandemi virus corona, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada Jumat (22/5), menyusul lonjakan jumlah infeksi COVID-19 di sana.

“Dalam arti tertentu, Amerika Selatan telah menjadi episentrum baru untuk penyakit ini. Kami telah melihat banyak negara Amerika Selatan dengan jumlah kasus yang terus meningkat,” direktur kedaruratan WHO Mike Ryan mengatakan pada konferensi pers virtual, seperti yang dikutip dari AFP Pada Sabtu (23/5).

“Jelas ada kekhawatiran di sana, tetapi yang paling terpengaruh pada saat ini adalah Brasil.”

Pilihan Redaksi
  • Trump: Kasus Corona AS Tertinggi di Dunia merupakan Prestasi
  • Swedia Catat Kematian Corona Tertinggi per Kapita di Eropa
  • 31 Persen Korban Jiwa Corona di Brasil Berusia di Bawah 60

Jumlah korban baru virus corona di Brasil melampaui 20 ribu pada hari Kamis (21/5), setelah rekor jumlah kematian dalam periode 24 jam, kata kementerian kesehatan.

Jumlah korban pada hari itu 1.188, menjadi yang tertinggi per hari sehingga mendorong angka kematian keseluruhan menjadi 20.047.

Brasil kini telah mencatat lebih dari 310 ribu kasus virus corona, dengan para ahli mengatakan kurangnya pengujian membuat jumlah kasus mungkin jauh lebih tinggi.

Dengan penambahan jumlah infeksi dan kematian yang meningkat tajam, negara yang dihuni 210 juta jiwa ini menempati urutan ketiga di dunia dalam hal total kasus, di belakang Amerika Serikat dan Rusia.

Jumlah korban tewas di Brasil – yang tertinggi keenam di dunia – telah berlipat ganda hanya dalam 11 hari, menurut data kementerian.

“Sebagian besar kasus berasal dari wilayah Sao Paulo,” kata Ryan.

“Tetapi dalam hal tingkat serangan, jumlah tertinggi sebenarnya di Amazon: sekitar 490 orang terinfeksi per 100 ribu populasi, cukup tinggi,” katanya.

Kementerian Kesehatan Brazil telah merekomendasikan penggunaan obat anti malaria chloroquine dan hydroxychloroquine untuk mengobati kasus-kasus COVID-19 yang ringan – perawatan yang telah dipromosikan oleh Presiden Brasil Jair Bolsonaro meskipun kurangnya bukti konklusif tentang keefektifannya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada hari Senin (18/5) membuat pengumuman mengejutkan bahwa ia mengonsumsi hydroxychloroquine, meskipun para ahli pemerintahnya sendiri mengatakan obat itu tidak cocok untuk memerangi virus corona.

Ryan menekankan, bahwa baik hydroxychloroquine maupun chloroquine tidak terbukti efektif dalam pengobatan COVID-19 – atau dalam profilaksis terhadap penyakit tersebut.

Kedua obat tersebut termasuk beberapa obat lain yang sedang dalam uji klinis terkoordinasi WHO. Sekitar 3.000 pasien ambil bagian dalam uji coba di 320 rumah sakit di 17 negara.

“Ulasan klinis dan sistematis kami saat ini dilakukan oleh Pan American Health Organization, dan bukti klinis saat ini, tidak mendukung meluasnya penggunaan hydroxychloroquine untuk pengobatan COVID-19 – tidak sampai uji coba selesai dan kami memiliki hasil yang jelas,” kata Ryan.

(AFP/ard)

[Gambas:Video ]

Next Post

AS Sanksi Batasi Ekspor China Karena Pelanggaran HAM Uighur

Jakarta, Indonesia — Kementerian Perdagangan Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi kepada lembaga pemerintahan China dan delapan perusahaan yang dinilai melanggar hak asasi manusia (HAM) terhadap warga suku Uighur dan beberapa suku minoritas lainnya. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump menyatakan sembilan perusahaan tersebut kini harus membatasi ekspor mereka sebagai konsekuensi sanksi. “Sembilan pihak ini […]